Dalam kehidupan ini dalam waktu yang tidak terentang terlalu jauh...aku mengalami dua kehilangan yang menyakitkan... 22 November 2007 lalu Ibu Tercinta berpulang ke rumah Allah.. dan tanggal 2 Januari 2009 yang lalu...seorang sahabat..kakak...guru sekaligus lawan debatku, seorang Johan Muhammad Riza berpulang ke rumah Allah... Kali ini aku tidak akan berpanjang lebar menyuguhkan perihnya perasaanku melalui tulisan..aku hanya ingin mengenang semua keindahan bersamanya melalui sebuah video singkat..silahkan klik di : http://www.youtube.com/watch?v=4ojXtTUAfYw semoga Tuhan mengampuni segala dosa dan kealpaanmu Mas...dan kini kau telah berada dalam Surga Terindah milik Allah... Tante Ika, Mbak Shasha...semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk kalian..amien..
Monday, January 19, 2009
Ketika Seorang Kawan Telah Pergi
Sunday, December 14, 2008
Hari AIDS Sedunia 2008

Dear All,
Tulisan ini aku buat untuk Hari AIDS Sedunia tahun 2008, dan dimuat Harian Joglosemar tanggal 1 Desember 2008. Selamat membaca, SOB! :)
Peran Mengayomi dalam Penanggulangan Epidemi HIV & AIDS
Sebuah refleksi Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2008
Agus Aribowo*
Tema Hari AIDS Sedunia (HAS) tahun 2008 ini adalah : Lead, Empower, Deliver. Rangkaian kata kerja yang cenderung bermakna perintah, yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai : Arahkan, Berdayakan dan Hantarkan. Sejak pertama kali diperingati yaitu pada tahun 1988, Hari AIDS Sedunia selalu memilih tema yang disesuaikan dengan situasi dunia merespon epidemi mematikan ini. Badan Kesehatan Dunia PBB, WHO, pada tahun 2008 ini pun memunculkan 3 kata kunci yang merupakan representasi dari nilai-nilai tegas kepemimpinan. Tak heran tema ini diangkat, seolah mengingatkan seluruh elemen dunia termasuk Indonesia pada HAS tahun lalu yang mengangkat tema ”Stop AIDS, Tepati Janji”. Seakan mendesak seluruh elemen termasuk negara untuk bertindak serius menyikapi epidemi ini.
Pada kenyataannya, Indonesia termasuk negara peringkat ke 4 kasus HIV & AIDS terbanyak dari 5 besar negara di Asia Tenggara. Negara-negara tersebut adalah : India, Thailand, Myanmar dan Nepal. Sumber penularannya pun hampir sama yaitu terbesar melalui hubungan seks pada kalangan laki-laki beresiko dengan pekerja seks perempun dan pasangannya, kelompok lelaki suka lelaki dan pengguna narkoba suntik. Lebih mengejutkan lagi, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir negara-negara di Asia Tenggara di atas ditambah Srilangka ternyata telah mampu mengendalikan laju penularan HIV. Sedangkan menurut WHO, penularan HIV di Indonesia justru menunjukkan peningkatan, yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara tercepat dalam penularan HIV di dunia.
Departemen Kesehatan RI, memiliki estimasi pada tahun 2010 diperkirakan 500.000 orang terinfeksi HIV. Saat ini saja di Jawa Tengah, sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1993 hingga bulan September 2008 terdapat 1359 orang yang mengidap HIV positif dan 502 kasus AIDS. Jumlah laki-laki tercatat 310 orang atau sekitar 61,75% dan perempuan 192 orang atau sekitar 38,35% (data resmi Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, Oktober 2008). Angka ini bisa jadi akan terus meningkat menjadi satu juta orang bila intervensi yang dilakukan tidak signifikan. Konstelasi upaya penanggulangan harus dilakukan secara terfokus, komprehensif dan berkesinambungan.
Sederet janji menunggu bukti
Sekedar mengingatkan, pada tahun 2001 Indonesia termasuk salah satu negara ASEAN yang menyepakati komitmen United Nations General Assembly Special Session on HIV/AIDS (UNGGAS) yaitu pertemuan menteri-menteri se Asia Fasifik. Beberapa butir dalam kesepakatan tersebut yang menuntut peran aktif pemerintah adalah sebagai berikut : 1) Menciptakan kepemimpinan yang kuat di semua tingkat pemerintahan dan masyarakat; 2) Pencegahan infeksi HIV/AIDS harus menjadi prioritas utama dan dilaksanakan melalui berbagai upaya, terutama melalui pendekatan agama; 3) Perawatan, dukungan dan pengobatan yang terintegrasi dengan upaya pencegahan; 4) Pemberdayaan perempuan untuk mengurangi kerentanan penularan HIV/AIDS termasuk hak-hak reproduksi sehat; 5) Merealisasi pendidikan / penyuluhan kesehatan reproduksi remaja pada remaja / generasi muda dan memberikan hidup sehat (life skill education); 6) Merealisasi hak asasi manusia untuk semua orang untuk mengurangi kerentanan, penghormatan atas hak-hak asasi penderita HIV/AIDS; 7) Mengurangi dampak sosial ekonomi melalui evaluasi dampak, memberik perlindungan hak, martabat orang HIV/AIDS di lingkungan kerja; 8) Melakukan, mengembangkan berbagai penelitian dan upaya selanjutnya untuk mengembangkan penggunaan obat, terutama obat antiretroviral dan obat infeksi opportunistik yang dijamin kesediaan, murah dan terjangkau.
Sedangkan pada tahun 2006, pemerintah Indonesia pernah berjanji akan mencapai target ambisius melalui jargon ”universal acsess”, yaitu pada tahun 2010 nanti ada beberapa indikator keberhasilan penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia akan terpenuhi. Indikator tersebut antara lain : 1) Sebanyak 80% pengguna narkoba suntik (penasun) mengikuti program komprehensif; 2) Sebanyak 50% orang terlibat dalam program 100% penggunaan kondom pada setiap hubungan seks berisiko; 3) Sedikitnya satu rumah sakit di setiap Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia mampu memberikan pelayanan dan pengobatan ARV pada tahun 2008 serta 50% Puskesmas mampu memberikan layanan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) berbasis masyarakat.
Realisasi dari sederet janji tersebut hingga saat ini belumlah optimal dengan kebutuhan yang ada di masyakarat. Layanan akses jarum steril baru dilakukan 9 puskesmas di DKI Jakarta Jawa Barat serta 20 LSM termasuk di Jawa Tengah. Layanan subsitusi methadone bagi penasun baru hanya di RS Kariadi Semarang. Sedangkan layanan ARV dilakukan 244 rumah sakit rujukan yang ditunjuk Depkes dan tersebar di seluruh Indonesia. Jawa Tengah rumah sakit yang benar-benar siap merawat pasien ODHA hanya 4 RS yaitu di Kota Semarang, Kabupaten Banyumas dan Surakarta. Terdapat total 847 puskesmas di Jawa Tengah, hanya ada 8 yang siap melayani konseling dan testing HIV namun ada satupun siap melayani pasien ODHA terkait infeksi ikutannya. Rendahnya penggunaan kondom secara konsisten pada hubungan seks beresiko pada kelompok laki-laki beresiko yaitu 30 - 40% dan pada kelompok wanita pekerja seks masih berkisar 34 – 35 % (data surveilans terpadu biologis & perilaku, tahun 2007). Realita tersebut menjadi pertanyaan besar bagi pemerintah serta lembaga swadaya masyarakat (LSM) atas kesungguhannya menahan laju epidemi HIV & AIDS.
Bantuan pihak asing
Situasi yang amat memprihatinkan tampak pada komitmen pemerintah dalam penanggulangan HIV & AIDS dalam 5 tahun terakhir. Bukan bermaksud mengecilkan peran yang sudah dilakukan oleh pemerintah selama ini. Tak ubahnya kampanye yang meriah dengan jargon-jargon nan indah namun kenyataannya masih jauh dari yang diharapkan. Misalkan, pengadaan obat anti retroviral (ARV) bagi pasien HIV yang ada selama ini masih 100 % bantuan dari lembaga internasional yaitu Global Fund to Fight AIDS - Tubercolosis - Malaria (GF/ATM). Padahal, obat tersebut adalah keharusan medis bagi pasien HIV untuk mempertahankan hidupnya yang harus dikonsumsi seumur hidup. Demikian pula dengan biaya pencegahan bagi kelompok resiko tinggi yang dilakukan oleh sebagian besar LSM pun berasal dari bantuan lembaga internasional.
Dengan kata lain upaya penanggulangan HIV & AIDS masih mengandalkan bantuan asing yang bersifat sementara. Sedangkan komitmen pemerintah dalam mepersiapkan keberlangsungan layanan itu pun masih sangat diragukan. Hal ini dibuktikan dari jumlah anggaran belanja negara (APBN) tahun 2008 yang diperuntukkan bagi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) maupun Departemen Kesehatan sekitar 13,4 juta dolar AS. Sementara lembaga internasional, termasuk dari Amerika Serikat menyumbang sebesar sekitar 51 juta dolar AS. Indonesia juga telah menerima bantuan hibah untuk AIDS dari GFATM periode 2009-2013 sebesar 130 juta dolar AS. Sedangkan anggaran belanja daerah (APBD) tahun 2008 di beberapa propinsi sebesar secara akumulatif sekitar 3,3 juta dolar AS. APBD kota / kabupaten secara akumulatif sekitar 1,7 juta dolar AS.
Bahkan dari pengalaman 2 tahun yang lalu, bantuan hibah dari luar negeri tersebut tidak dapat secara maksimal diserap untuk program penanggulangan HIV & AIDS. Dikarenakan perencanaan yang kurang matang dan mentalitas korup di dalam pelaksanaan program. Setiap daerah di Indonesia memiliki tingkat epidemi yang berbeda. Tentunya perencanaan dari setiap wilayah harus pula merespon epidemi di masing-masing daerahnya. Bukan justru digariskan oleh otoritas ”pusat” dalam menyusun program penanggulangan HIV & AIDS di wilayahnya. Bahkan tidak sedikit, pemerintah daerah yang kebingungan menghadapi template bantuan yang dimandatkan oleh ”pusat”. Tak pelak lagi, program yang direncanakan dan dilaksanakan tidak berjalan maksimal atau bahkan tidak berdampak signifikan terhadap penahanan laju epidemi.
Semestinya prosedur perencanaan pembangunan termasuk rencana penanggulangan HIV & AIDS di daerah harus menggunakan mekanisme Musyawarah Perencanaan Pembangunan (musrembang). Musrembang adalah forum musyawarah tahunan yang dilaksanakan secara partisipatif oleh para pemangku kepentingan untuk menyepakati rencana kegiatan tahun anggaran yang berjalan yang sesuai dengan level tingkatannya. Sehingga perencanaan yang disusun benar-benar menyentuh kebutuhan masyakarat. Namun dalam isu epidemi yang belum ada obatnya ini tidak semua propinsi, kabupaten maupun kota melakukannya. Bagaimana isu ini akan mendapatkan dukungan serius dari pemerintah daerah bahkan masyakarat, jika proses perencanaannya pun tidak partisipatif. Isu HIV & AIDS yang mengkampanyekan anti stigma dan diskriminasi ini pun, semakin menjadi terdiskriminasi karena ”keasingannya” di bumi pertiwi ini.
Menggugah partisipasi masyarakat
Semakin meluasnya pidemi HIV & AIDS hendaknya menjadi momentum kesadaran kritis oleh masyakarat. Kesadaran kritis ini berguna untuk mendorong peran aktif negara agar bertindak lebih nyata. Kerjasama yang mengarah pada terciptanya jejaring penanggulangan HIV & AIDS adalah media yang diharapkan dalam upaya menahan laju epidemi. Contoh menarik oleh Pemerintah Kota Surakarta yang menerapkan sistem asuransi kesehatan bagi warganya dengan program Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS). Program ini didanai oleh APBD dengan tujuan melayani kesehatan warga kota yang tidak mampu termasuk pasien ODHA yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Hal tersebut menujukkan kearifan lokal dalam tata nilai budaya masyarakat hendaknya menjadi potensi utama penggalangan dukungan dari masyarakat. Kolaborasi antara sifat mengayomi serta keterbukaan dari pemerintah dengan dukungan maksimal dari elemen masyarakat, sektor usaha maupun LSM mutlak dibutuhkan.
Hal yang terpenting dari upaya di atas hendaknya menggabungkan respon terhadap epidemi di atas kedalam sistim yang sudah ada lebih dahulu ada baik dalam struktur pemerintah ataupun dalam tata nilai masyakarat. Penciptaan lingkungan yang kondusif pun mutlak dilakukan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan yaitu kepolisian, legeslatif, organisasi komunitas kelompok resiko tinggi, organisasi ODHA, kelompok mucikari, pengurus lokalisasi, aparat desa hingga masyarakat umum. Serta memastikan keberlangsungan jangka panjang dari program yang dilakukan. Pengalaman membuktikan, bahwa penciptaan instrumen dalam kebijakan penanggulangan HIV & AIDS yang hanya berlandaskan pemahaman instan dan tidak memberdayakan potensi yang ada justru tidak akan berumur panjang. Lawan epidemi HIV & AIDS dengan kekuatan serta potensi lokal yang ada.
* Penulis adalah Program Manager Family Health International / Aksi Stop AIDS Central Java
Sunday, October 12, 2008
Laskar Pelangi : Nonton Vs Baca

Finally, tiket nonton bioskop film Laskar Pelangi dapat juga. Obsesi nonton sebenarnya sejak launching beberapa yang minggu lalu. Pertama sewaktu akan nonton (masih bulan puasa), aku, Nina dan Entik berniat nonton di Semarang. Tapi antrian sangat panjang yang alhasil ticket box selalu ludes terjual. Aku termasuk orang yang penasaran, jujur bukan mau membandingkan cerita di novelnya dengan dalam bentuk film. Tetapi pingin banget melakukan testing apresiasi-imajinasi membaca-ku dengan seorang Andrea Hirata dan seorang Riri Reza. Sejak membaca novelnya dulu, aku langsung punya imajinasi pada beberapa figur tokoh baik secara fisik, lalu setting kejadian, yang aku bayangkan sekolah SD Muhammadyah itu seperti apa, lalu wajah Belitung yang "dikuras" oleh PT. Timah itu seperti apa..imajinasiku tentang Ikal, Lintang, Mahar dan terutama HARUN. Aku ingin sekali melihat 3 persepsi manusia mengapresiasikan novel dahsyat itu.
Dan saat itu pun tiba. Tadi malam (minggu, 12 Oktober 2008), di waktu tayang terakhir yaitu pukul 21.50 wib. Aku dan Nina berkesempatan untuk nonton film yang telah ditungggu-tunggu selama 1 tahun-an ini. Tepat dugaanku, tidak terlalu jauh apa yang aku imajinasikan dari membaca novelnya dengan apa yang divisualkan oleh seorang Riri Reza. Membayangkan tubuh kecil Lintang yang puluhan kilometer harus ditempuh dari rumah ke sekolah dan kerap kali harus sabar menanti buaya yang melintas di jalan. Atau cerita di toko Harapan Jaya, ketika Ikal kecil yang jatuh cinta pada padangan jemari halus si Aling. Atau tarian majis hasil karya Mahar dalam karnaval antar sekolah. Atau lomba cerdas-cermat yang menjadi momentum proklamasi kecerdasan seorang Lintang walaupun setelah itu kenyataan menyatakan ia terpaksa berhenti sekolah dikarenakan ditinggal mati ayahnya dan harus bertanggungjawab kepada adik-adiknya.
Hmm...apa ya komentarkuSecara napsu hiburan, cukuplah untuk menghibur. Kecerdasan Lintang seorang anak sekolah dasar dalam novel yang dengan lugas ia bercerita tentang Plato, Aristoteles, Newton maupun fenomena ilmiah lainnya berhasil disederhanakan lebih membumi melalui filmnya. Demikian juga waham maestro dan magis yang dimiliki oleh Mahar pun tidak begitu tampak dalam filmnya.Terus terang aku sepenuh hati menyadari bahwa, ideologi pembuatan film ini jauh berbeda dengan ideologi ketika Andrea Hirata menulis novel Laskar Pelangi. Menurutku, secara sajian hiburan terutama tontonan anak, film Laskar Pelangi sangat memberikan suguhan nilai-nilai yang kental akan budi pekerti dan etos belajar yang sangat baik. Riri Reza berhasil menyuguhkan sebagian pesan dari Laskar Pelangi dan sebagian kekayaan ruang empiris dan imajinasi seorang Andrea Hirata ke dalam sebuah layar tiga dimensi. Sebagian dari novel aku rasakan hilang. Untunglah ekspektasi-ku terhadap filmnya tidak terlalu tinggi. Apapun itu, terimakasih dan salut atas apa yang sudah dikerjakan oleh cineas muda yang telah mengadopsi sebuah novel dahsyat Laskar Pelangi dalam sebuah layar kaca Indonesia. Semoga nilai-nilai budi pekerti tetap menjadi motivasi bagi bangsa ini. :)
Salam
@
Friday, October 10, 2008
Idul Fitri Kami

Suasana menjelang Idul Fitri 1429 H kemarin bagiku secara pribadi menjadi momentum transisi emosional. Lebaran 1 tahun yang lalu, keluarga besarku dapat berkumpul secara lengkap. Diawali dalam proses persiapannya, bapak dan ibu dibantu Abangku dan Kakakku sibuk mneyiapkan segala masakan, membersihkan rumah "kebesaran" kami (ya karena memang terlalu besar), menyiapkan segala hal untuk menyambut kedatangan Bagas & Banu yaitu generasi ketiga yang meneruskan sejarah keluarga kami. Sedangkan aku mendapatkan giliran, lebaran tahun lalu lebih dahulu berlebaran di hari pertama di rumah mertua di Jepara. Aku bisa merasakan hangatnya suasana keramaian di rumah Solo menyambut lebaran. Dan pada hari kedua lebaran, aku dan istriku pun datang ke Solo. Menikmati lebaran bersama orang-orang yang sangat kucintai..orang-orang besar yang telah memberikan banyak tauladan selama ini. Bersama Ibu..
Idul Fitri tahun ini...Aku, Nina, Atik (sepupuku dari Pekanbaru yang sedang kuliah di Semarang) juga Khalilla mudik ke Solo. Jelas berbeda, tahun lalu Khalilla, cucu perempuan pertama Ibu belum lahir. Aku masih teringat bahagianya Ibu ketika dulu aku beritahu bahwa anakku akan lahir perempuan. Ibu seakan-akan jelas terlihat menjadi lebih bersyukur atas apa yang Ibu nantikan selama ini.
2 Hari sebelum lebaran, Bapak mengajakku juga Bang Danang dan Imun menemaninya data mengunjungi beberapa sanak saudaranya di Yogya. Misi perjalanan kami adalah memberikan sedikit bantuan uang dan beberapa pakaian pantas pakai yang sudah Ibu kumpulkan dan Ibu bagi-bagi sendiri untuk beberapa keluarga Bapak yang ada di Yogya. Memang ada beberapa keluarga dari Bapak yang hidup memprihatinkan dan memerlukan bantuan. Hal itu selalu menjadi konsern ibu setiap tahun. Itulah salah satu sifat luhur Ibu yang selalu menjadi contoh bagi kami. Ibu memiliki welas asih yang tinggi. Semoga kamipun selalu dijaga untuk hal itu. Amin.
Setibanya di Yogya, di salah satu rumah keponakan Bapak, ketika Bapak menyampaikan maksud kedatangannya dan menyebutkan ini adalah amanah almarhum Ibu. Tanpa kami duga, Bapak sempat tidak melanjutkan kata-katanya. Aku kaget dan melihat ke wajah Bapak. Wajah lelaki tua itu, bergaris haru..pandangannya seketika kosong. Seakan meningalkan ruang tamu tu dan berlari sekencang-kencangnya ke suatu masa Bapak dan Ibu memulai sebuah kehidupan manusia yang di sebut keluarga. Suara Bapak tertahan.. ..ada hisakan tangis yang lirih..beberapa butir air matanya pun tak mampu terbendung..Lelaki tua berhati kaya itu yang hanya sekali menangis pada saat menyambut kepulangan Kak Tri dari Ambon mejelang pemakaman Ibu itupun menangis untuk kedua kalinya. Hanya sekian detik...namun sangat mempengaruhi suasana di ruangan itu. Semua keponakan bapak yang rata-rata usianya jauh di atas aku dan abang-abangku pun tak tahan menahan haru. Ada apa ini? pikirku. Jelas sekali kehilangan Ibu memang tak kan tergantikan..
Begitu juga dalam menyiapkan segala masakan untuk Idul Fitri. Di bawah koordinasi Kak Ririn maka mulai lah segenap perempuan yang ada di rumah Solo mulai bersibuk-sibuk memasak opor, gulai nangka, rendang dan sambal goreng hati. Para lelaki menyiapkan selongsong ketupat, membersihkan rumah juga sesekali menenangkan Banu atau Bagas ataupun Khalilla yang butuh "ruang gerak" untuk hak-haknya sebagai anak :) Hmm...capek tapi tetapi menyenangkan..Ibu, kami akan coba pertahankan tradisi menjamu keluarga yang datang dan tamu lainnya dengan masakan-masakan peninggalanmu.. :)
Esok harinya...kami sholat IED, sungkeman satu sama lain..dan ini lah yang menjadi agenda terbaru lebaran tahun ini..yaitu : Ziarah ke makam Ibu.
Khyusuk kami berdoa memohon ampunan Allah untuk Almarhumah Ibu. Semoga ditempatkan dalam keabadian Bahagia di Syurga..mohon kepada Allah agar kami yang ada seluruhnya diberikan semakin lebih baik dan bersyukur atas nikmat selama ini..Baru kali ini aku menangis di makam ibu..aku terbayang saat masa-masa kecilku...aku teringat beberapa nasehat Ibu..dan aku teringat saat terakhir dengan ibu...Aku sempat berbisik dalam doa.."Ibu, putriku Khalilla sekarang udah 9 bulan..sehat lucu..cerdas seperti Yangtinya..Aku bangga punya Ibu dan pasti akan selalu aku ceritakan kebesaran hati ibu kepada Khalilla..supaya diapun bangga dan berbudi seperti Ibu..Amien."
Taqoballahu minna waminkum
Minal 'Adin Wal Fadzin
Mohon Maaf Lahir & Batin
salam
@
Tuesday, September 2, 2008
Lentera Jiwa..sebuah nasehat dari Nugie

Lentera Jiwa. Sebuah karya dari Nugie. Lagu dan lirik yang bagiku dahsyat sekali...
Teringat semua yang sudah aku lalui..masa kecil...remaja..hingga sekarang..
Perjalanan hidup manusia...penuh dengan misteri...
Terkadang kita hanyut dengan pernak-pernik kejadian yang terjadi..tanpa pernah mendengar kata hati kita..
Thxs Nugie atas "nasehat"nya
LENTARA JIWA
Lama sudah kumencari
Apa yang hendak kulakukan
Sgala titik kujelajahi
Tiada satupun kumengerti
Tersesatkah aku di samudra hidupmu
Kata-kata yang kubaca
Terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan
Bilakah kau tahu jawabnya
Inikah jalanku inikah takdirku
Chorus:
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku...
Friday, May 16, 2008
Gay : Anomali dan Fakta (chapter 2)

Pada chapter sebelumnya, aku sudah menceritakan sepintas kisah salah seorang tokoh dalam cerita ini. Ya, Slamet. Pria dengan penampilan kepala plontos ini tergolong senior di Jawa Tengah dengan memusatkan tajuk kerajaan gay-nya di Solo. Sangat menyenangkan jika berdiskusi dengannya. Sering kali aku terperangah, geleng-geleng kepala jika ia menceritakan entah fakta atau rumor fenomena gay di Jawa Tengah ataupun di Indonesia. Walaupun aku sangat paham dengan angka estimasi berapa jumlah gaya atau secara umum disebut sebagai MSM (men who have sex with men) yaitu tahun 2006 hingga sekarang jumlah mereka di Jateng adalah 8.739.988 jiwa (data estimasi MSM KPA Nasional, 2006). What's up buddy? Surprising about that? Compare with men population in central java. Here they are data from Susenas (Survey Social Ekonomi Nasional, 2006) penduduk laki-laki dewasa (>14 tahun) 9.262.783 jiwa dan (<14 tahun)5.490.902 jiwa. Woowwww.......
Ada satu buku yang menarik tentang gay di Indonesia. Salah satu buku karya Dede Oetomo "Memberi Suara Kepada Yang Bisu". Sebuah referensi kenyataan yang mengulas bagaimana perjuangan kelompok Gay di Indonesia. Bagaimana peta konstelasi perjuangan mereka di tengah hiruk pikuk kontroversi. Yang menarik juga bagaimana pandanganku tentang beberapa tokoh dunia seperti : Raja Iskandar Zulkarnaen dan Julius Caesar, filsuf Yunani klasik Plato dan Aristoteles, Boden Powell (bapak kepanduan / pramuka internasional), Michelangelo dan Leonardo da Vinci (pelukis). John Maynard Keynes (tokoh ekonomi neo-klasik), Michael Foucalt (posmodermis), Elton John (penyanyi), Fredy Mercury (terhitung sebagai bi-sex), Glanni Versace (perancang mode). Ia nyatakan, sejarah kaum gay di Indonesia pun telah ada sejak dulu kala. Hampir di setiap daerah dengan akar kebudayaan masing-masing hampir dipastikan aktifitas erotis gay ada di ruang budaya itu. Bissu dalam beberapa kegiatan ritual mistis di Makassar, Gemblak dalam dunia per"Warok"an di Ponorogo. Juga budaya laki-laki ningrat di Solo yang hobby memiliki "simpanan" lelaki-lelaki muda.
Informasi itu pun dilengkapi oleh kawan-kawan Gessang, bahwa hampir di semua lini kepentingan dan isu di daerah maupun nasional juga pasti ada kelompok "hemong" (sebutan gaul dari gay). Walikota? Ada. Artis? Banyak. Menteri? Ada. Pengusaha? Banyak. Aktivis LSM? Banyak...yukkk...hehehe.
Kembali ke tokoh cerita, Slamet dan kawannya Giyanto. Apresiasi kemanusiaanku mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang hebat. Mereka sangat terbuka atas status mazhab pecinta sejenis yang mereka anut. Sebuah pilihan hidup yang rumit. Aku memberanikan diri untuk melakukan indepth interview kepada mereka. Seorang Giyanto, adalah lelaki yang memiliki orientasi tampilan "kemayu".
Aku belum pernah membaca atau mendapatkan literatur dari buku, atau jurnal ilmiah manapun terkait dikotomi seksual, orientasi spesifik atau batasan libido seksual seorang gay. Jujur, hingga sekarang aku masih sering bingung, sebenarnya faktor-faktor apa saja yang menentukan hubungan inter-seksual maupun ideologis gay.
Kalau hanya sekedar empiris kasus dan kejadian lapangan lain, menurutku gay bukan hanya laki-laki yang tampak "kemayu" saja lho. Dalam kehidupan (seksual, gender, psikologis, sosial dan ekonomi), mereka membagi peran sebagai individu maupun yang sudah berpasangan ataupun dalam kelompok-kelompok mereka. Secara umum, peran gender-lah yang tampil sebagai indikator pembeda pada umumnya. Hingga, muncul 2 istilah gay feminim dan gay maskulin. Selanjutnya kebutuhan hidup mereka menyesuaikan dengan status yang mereka ciptakan tersebut. Misalnya : pasangan gay (terikat maupun tidak) pasti terdiri dari feminim dan maskulin. Yang hanya mencari partner untuk having sex saja, juga akan menyesuaikan dengan sifat yang ia miliki. Dalam arti kata, tidak sembarang laki-laki yang mereka inginkan. Seorang gay yang macho akan mencari pasangan yang kemayu, dan begitu juga sebaliknya. Hmmm...
Tapi bagaimana dengan gay yang bekerja sebagai pekerja seks? Atau sebutan lainnya adalah "kucing". Haruskah mereka bergonta-ganti peran gender mereka? Berakting? Kalau iya benar, luar biasa! Merekalah aktor yang tak pernah mendapatkan piala Oscar. Hmmm...Lalu bagaimana yang sudah memiliki pasangan hetero seperti istri? Beberapa kawan gay atau psikolog memang punya jawaban untuk hal itu. Karena kenyataannya jumlah mereka yang terperangkap menjadi makhluk bi-seksual ini juga tidak sedikit. Katanya, hampir 30% gay yang ada juga memiliki pasangan hetero tetap. Fuiihhhhh.....
Eiiit...Bagaimana dengan Giyanto tadi? Aku menanyakan kepadanya, dulu sewaktu ia memasuki masa "aqil baliq" remaja awal pernahkah ia mimpi basah? Ia pun menjawab mantap. Iya. Lalu aku lanjutkan, dengan pertanyaan: "dengan siapa?" Ia pun menjawab tetap dengan kemayu dan malu-malu : "isin aku mas, mbiyen aku mimpi "meong"nge karo wong wadhon." (malu aku mas, dulu aku mimpi "ML"nya dengan anak perempuan"). Wah..menarik juga nich pikirku.Alam bawah sadar seseorang laki-laki yang punya hasrat seksual dengan perempuan hingga terbawa dalam bunga tidur "awal kematangan seksual" namun di kemudian hari ia mencintai sejenis. Ataukah mimpi basah dalam herarki psikologi perkembangan itu hanya sebuah mitos? Ya sudahlah...
Lalu ceritanya pun berlanjut ketika masa remaja kerap ia habiskan dengan ngerumpi, kumpul-kumpul dengan teman-teman perempuannya. Dan lingkungannya selalu mengejek ia dengan sebutan : banci! Aku tertegun, dan segera ingatanku kembali di masa sekolah dulu. Aku teringat temanku: Najib. Teman satu kelas waktu di kelas 1 dan 2 SMA. Sering kali kawan-kawan termasuk guru memanggil ia dengan sebutan banci.Bahkan pernah satu ketika, pada saat jam pelajaran olah raga, Najib ditelanjangi kawan2 ku dan dipasangkan bra (bh) persis di dadanya. Persis tengah lapangan basket sekolah dan disaksikan murid2 lainnya. Hihihihi....kalo inget kejadian itu aku masih ketawa sendiri, dan jujur pada saat kejadian itu pun aku ikut tertawa. Astagfirallah....Tuhan, kalau tahu kejadian yang "menyenangkan" bagi kami saat itu ternyata adalah hal yang menjadi kontribusi terbesar dari dielektis disorintasi seseorang...pastilah kejadian di lapangan basket itu tidak akan terjadi. Najib, where are you now? maafkan kami ya...
Sekarang sudah 3 bulan ini Giyanto sedang membina hubungan "pacaran" dengan "BF" (sebutan gaul untuk pacar boy friend). Tetapi Giyanto menginginkan suatu saat nanti ia dapat menikahi seorang perempuan dan hidup "normal". Aku sangat kaget mendengar kisahnya itu. Kesimpulan ku sementara, Giyanto ini bukan gay. Ia hanya melakukan kegiatan seksual sesama jenis. Hanya pada aktifitas seksual. Dan dalam terminologi seksualitas : ia masuk dalam kelompok MSM. Bukan gay! Berbeda dengan Slamet yang memandang bukan hanya hubungan seksual sebagai indikator orang disebut gay. Gay adalah ideologis begitu katanya. Bukan hanya hasrat seks, tetapi pola pikir, tujuan hidup, hak dan aksi. Seorang gay harus memiliki pandangan hidup yang memperjuangkan hak hidup agar tidak ada lagi diskriminasi. Luar biasa...ternyata menjadi gay itu sulit. Bukan hanya kehidupan yang mereka lewati tetapi rukun syaratnya pun demikian. OK, tertarik?
wassalam,
@
Thursday, May 8, 2008
Gay : Anomali dan Fakta (chapter 1)

Beberapa minggu yang lalu aku dan mas Bowo melakukan evaluasi proyek di sebuah yayasan yang dikelola dan berfokus pada masalah gay dan men who have sex with men (MSM) yang ada di Solo. Yayasan itu adalah GESSANG. Evaluasi yang kami lakukan adalah kegiatan yang cukup penting. Mengingat akan menentukan hubungan kemitraan lembaga dengan mereka untuk tahun kedepan. Ada diskusi intens dengan membongkar data capaian performance hingga turun ke lapangan melihat proses para outreach worker bekerja. Ada satu pengalaman menarik dimana pada saat melakukan evaluasi kali itu.
Sore itu, setelah sesi selesai aku sengaja bersantai-santai dengan mas Bowo dan dua teman dari Gessang, yaitu Selamet dan Giyanto. Slamet yang aku kenal adalah salah seorang tokoh gay di Solo yang telah merintis perjuangan hak kaum gay sejak tahun 1996. Mengawali aktifitas sejak di Surabaya yang sebelumnya bergabung dengan kelompok GayA Nusantara. Yaitu kelompok gay kaliber nasional yang dimotori oleh Dede Oetomo seorang doktor antropologi di salah satu perguruan tinggi negeri tertua di Indonesia. Aku mengenal Slamet sudah 2 tahun lebih. Mendengar cerita-cerita tentang kiprahnya, terus terang aku salut. Sebuah proses pengungkapan jati diri dan kelompok yang kerap mendapatkan respon negatif dari kelompok masyarakat lain yang menganggap dirinya paling benar.
Perjuangan yang tak henti-hentinya menuai hujatan, kecaman, intimidasi, teror bahkan ancaman pembunuhan. Bahkan, pernah ada satu cerita ia dan beberapa ”senior” (sebutan ”junjungan besar” bagi gay kawakan yang aktif atau bahkan progresif lebih dulu) di tahun 1999. Beberapa kelompok agama yang ”fundamental” (istilah ini sebenarnya saya tidak cocok, karena seolah membenarkan aktifitas ”barbar” mereka yang mematikan kelompok lain dan menganggap mereka paling benar) menyerbu sebuah hotel di kawasan Solo dengan tujuan mencari kelompok gay yang tengah mengadakan pertemuan penguatan jaringan. Yang mencengangkan, bahkan mereka bertingkah seakan-akan kerasukan ”roh srigala tengik” berniat membunuh para kelompok gay itu dengan fatwa : Halal!.
Tidak hanya berhenti di waktu itu saja. Banyak teror yang mereka alami. Terakhir adalah ketika di tahun 2006, mereka mengadakan kegiatan dalam rangka hari AIDS sedunia. Acara itu dikemas seperti : ajang pemilihan ”miss universe” peduli AIDS yang diikuti oleh kelompok gay dan waria di Solo. Serbuan dan intimidasi secara fisik (tentu saja secara berdampak pula secara psikologis) dilakukan oleh ”laskar” yang menggunakan simbol-simbol agama tertentu dan menggunakan istilah yang identik dengan nama milisi Afganistan yang dibiayai dan dilatih oleh Amerika ketika melawan ekspansi Uni Soviet di Timur Tengah yang akhirnya beberapa tahun terkahir ini justru sibuk dihancurkan oleh Amerika karena dituduh sebagai biang teroris. Sekitar seratus-an orang berjubah dan bersenjatakan alat pukul dan senjata tajam itu menyerbu kegiatan yang sedang berlangsung. Kebetulan, aku juga ada di sana dan menyaksikan dengan mata kepalaku. Sebuah pertemuan kultur dan peradaban yang menggunakan konflik sebagai cara pandang. Fenomena kontroversi yang mengedapankan nilai kekerasan sebagai pilihan. Namun sontak selesai hanya dengan produk manusia yang membuat manusianya sendiri menjadi gila. UANG!
Ya, uang sebesar Rp. 500 ribu adalah peredam amarah dan kedengkian sekelompok orang yang berteriak-teriak menyebut nama Tuhan mereka. Uang adalah embun pelepas dahaga di kemarau iman yang panjang. Uang adalah Tuhan sesungguhnya Apakah ini yang disebut distorsi nilai manusia akan agamanya? Aku pernah membaca “Sexual Morality : in the world’s religions” karya Geoffre Parrinder yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Teologi Seksual”. Buku itu sangat menarik membahas bagaimana agama-agama di dunia memandang seksualitas termasuk beberapa perilaku seks yang ada. Dan rasanya, tidak ada satupun agama (dalam perspepsi kitab sucinya) yang membenarkan teror terhadap kontroversi seksualitas.
Ada persoalan hidup yang menyelimuti perjuangan kelompok gay ini. Menurutku, masalah mereka bukan sekedar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Ekonomi, sosial, bereligi, berbudaya, bahkan akifitas seksual. Persoalan hidup mereka secara lebih mendasar “diganggu” oleh esensi dasar kehidupan manusia yaitu seksualitas. Orientasi seksual yang secara umum dianggap menyimpang inilah yang mengawali penolakan awam terhadap kaum pecinta sesama lelaki ini. Sepintas, hasrat kebutuhan mereka hanya seputar hubungan seks. Kalau boleh menggunakan istilah lainnya adalah “ideologi mulut dan pantat”. Tetapi, jauh lebih dalam terjadi penganutan pemahaman yang telah meng-ideologis bagi sebagian dari mereka. Sehingga, tuntutannya tidak lagi sesederhana di atas. Mereka menjelma sebagai sesungguhnya manusia yang menghendaki hak-hak dasar sebagai manusia di tengah intimidasi sosial. Mereka memperjuangkan yang sesungguhnya hak dasar sebagai manusia, yaitu apresiasi dan pengakuan atas keberadaan mereka tanpa diskriminasi. Memandang kelompok mereka sebagai esensi manusia seutuhnya yang tidak dibatasi ruang publik dan segala akses pemenuhan hak-hak sebagai manusia.
Perjuangan yang ama panjang. Walaupun beberapa negara di Eropa melalui salah satu majelis gerejanya telah memberi restu pernikahan bagi kaum homoseksual. Ternyata belum cukup untuk bernafas lega. Negara Eropa dan Amerika Serikat tercatat secara statistik angka kekerasan masyarakat umum bahkan aparat publik kepada kelompok gay dan homoseksual lainnya selalu meningkat. Setiap tahun selalu ada peningkatan 10-15 % kasus kekerasan terhadap kelompok homoseksual ini. Menjadi menarik proses ini. Karena ditengah upaya penegakan humanisasi kaum homoseksual ada trend relasi kekerasan yang cenderung meningkat. Apakah masyarakat hingga saat ini belum menerima? Bagaimana dengan Anda? Lalu bagaimana cerita kawan Selamet dan Giyanto selanjutnya? Bersabar ya, semoga ada next chapter.
Wassalam,
@
NOTE : Kata GAY untuk judul dalam posting ini saja sudah diblokir oleh Telkomnet dan Indosat.