
Beberapa minggu yang lalu aku dan mas Bowo melakukan evaluasi proyek di sebuah yayasan yang dikelola dan berfokus pada masalah gay dan men who have sex with men (MSM) yang ada di Solo. Yayasan itu adalah GESSANG. Evaluasi yang kami lakukan adalah kegiatan yang cukup penting. Mengingat akan menentukan hubungan kemitraan lembaga dengan mereka untuk tahun kedepan. Ada diskusi intens dengan membongkar data capaian performance hingga turun ke lapangan melihat proses para outreach worker bekerja. Ada satu pengalaman menarik dimana pada saat melakukan evaluasi kali itu.
Sore itu, setelah sesi selesai aku sengaja bersantai-santai dengan mas Bowo dan dua teman dari Gessang, yaitu Selamet dan Giyanto. Slamet yang aku kenal adalah salah seorang tokoh gay di Solo yang telah merintis perjuangan hak kaum gay sejak tahun 1996. Mengawali aktifitas sejak di Surabaya yang sebelumnya bergabung dengan kelompok GayA Nusantara. Yaitu kelompok gay kaliber nasional yang dimotori oleh Dede Oetomo seorang doktor antropologi di salah satu perguruan tinggi negeri tertua di Indonesia. Aku mengenal Slamet sudah 2 tahun lebih. Mendengar cerita-cerita tentang kiprahnya, terus terang aku salut. Sebuah proses pengungkapan jati diri dan kelompok yang kerap mendapatkan respon negatif dari kelompok masyarakat lain yang menganggap dirinya paling benar.
Perjuangan yang tak henti-hentinya menuai hujatan, kecaman, intimidasi, teror bahkan ancaman pembunuhan. Bahkan, pernah ada satu cerita ia dan beberapa ”senior” (sebutan ”junjungan besar” bagi gay kawakan yang aktif atau bahkan progresif lebih dulu) di tahun 1999. Beberapa kelompok agama yang ”fundamental” (istilah ini sebenarnya saya tidak cocok, karena seolah membenarkan aktifitas ”barbar” mereka yang mematikan kelompok lain dan menganggap mereka paling benar) menyerbu sebuah hotel di kawasan Solo dengan tujuan mencari kelompok gay yang tengah mengadakan pertemuan penguatan jaringan. Yang mencengangkan, bahkan mereka bertingkah seakan-akan kerasukan ”roh srigala tengik” berniat membunuh para kelompok gay itu dengan fatwa : Halal!.
Tidak hanya berhenti di waktu itu saja. Banyak teror yang mereka alami. Terakhir adalah ketika di tahun 2006, mereka mengadakan kegiatan dalam rangka hari AIDS sedunia. Acara itu dikemas seperti : ajang pemilihan ”miss universe” peduli AIDS yang diikuti oleh kelompok gay dan waria di Solo. Serbuan dan intimidasi secara fisik (tentu saja secara berdampak pula secara psikologis) dilakukan oleh ”laskar” yang menggunakan simbol-simbol agama tertentu dan menggunakan istilah yang identik dengan nama milisi Afganistan yang dibiayai dan dilatih oleh Amerika ketika melawan ekspansi Uni Soviet di Timur Tengah yang akhirnya beberapa tahun terkahir ini justru sibuk dihancurkan oleh Amerika karena dituduh sebagai biang teroris. Sekitar seratus-an orang berjubah dan bersenjatakan alat pukul dan senjata tajam itu menyerbu kegiatan yang sedang berlangsung. Kebetulan, aku juga ada di sana dan menyaksikan dengan mata kepalaku. Sebuah pertemuan kultur dan peradaban yang menggunakan konflik sebagai cara pandang. Fenomena kontroversi yang mengedapankan nilai kekerasan sebagai pilihan. Namun sontak selesai hanya dengan produk manusia yang membuat manusianya sendiri menjadi gila. UANG!
Ya, uang sebesar Rp. 500 ribu adalah peredam amarah dan kedengkian sekelompok orang yang berteriak-teriak menyebut nama Tuhan mereka. Uang adalah embun pelepas dahaga di kemarau iman yang panjang. Uang adalah Tuhan sesungguhnya Apakah ini yang disebut distorsi nilai manusia akan agamanya? Aku pernah membaca “Sexual Morality : in the world’s religions” karya Geoffre Parrinder yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Teologi Seksual”. Buku itu sangat menarik membahas bagaimana agama-agama di dunia memandang seksualitas termasuk beberapa perilaku seks yang ada. Dan rasanya, tidak ada satupun agama (dalam perspepsi kitab sucinya) yang membenarkan teror terhadap kontroversi seksualitas.
Ada persoalan hidup yang menyelimuti perjuangan kelompok gay ini. Menurutku, masalah mereka bukan sekedar pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Ekonomi, sosial, bereligi, berbudaya, bahkan akifitas seksual. Persoalan hidup mereka secara lebih mendasar “diganggu” oleh esensi dasar kehidupan manusia yaitu seksualitas. Orientasi seksual yang secara umum dianggap menyimpang inilah yang mengawali penolakan awam terhadap kaum pecinta sesama lelaki ini. Sepintas, hasrat kebutuhan mereka hanya seputar hubungan seks. Kalau boleh menggunakan istilah lainnya adalah “ideologi mulut dan pantat”. Tetapi, jauh lebih dalam terjadi penganutan pemahaman yang telah meng-ideologis bagi sebagian dari mereka. Sehingga, tuntutannya tidak lagi sesederhana di atas. Mereka menjelma sebagai sesungguhnya manusia yang menghendaki hak-hak dasar sebagai manusia di tengah intimidasi sosial. Mereka memperjuangkan yang sesungguhnya hak dasar sebagai manusia, yaitu apresiasi dan pengakuan atas keberadaan mereka tanpa diskriminasi. Memandang kelompok mereka sebagai esensi manusia seutuhnya yang tidak dibatasi ruang publik dan segala akses pemenuhan hak-hak sebagai manusia.
Perjuangan yang ama panjang. Walaupun beberapa negara di Eropa melalui salah satu majelis gerejanya telah memberi restu pernikahan bagi kaum homoseksual. Ternyata belum cukup untuk bernafas lega. Negara Eropa dan Amerika Serikat tercatat secara statistik angka kekerasan masyarakat umum bahkan aparat publik kepada kelompok gay dan homoseksual lainnya selalu meningkat. Setiap tahun selalu ada peningkatan 10-15 % kasus kekerasan terhadap kelompok homoseksual ini. Menjadi menarik proses ini. Karena ditengah upaya penegakan humanisasi kaum homoseksual ada trend relasi kekerasan yang cenderung meningkat. Apakah masyarakat hingga saat ini belum menerima? Bagaimana dengan Anda? Lalu bagaimana cerita kawan Selamet dan Giyanto selanjutnya? Bersabar ya, semoga ada next chapter.
Wassalam,
@
NOTE : Kata GAY untuk judul dalam posting ini saja sudah diblokir oleh Telkomnet dan Indosat.
